SALIK TERAKAT SUNAN ANBIA: Perjalanan Menjadi Manusia Spiritual Sang Murid Assoc. Prof. Dr. K.M. Sadari, S.H.I., M.S.I Mengikuti Jejak Sang Mursyid Prof. Drs.K.H. Yudian Wahyudi., M.A., Ph.D Menuju Eksistensialis + Positivis + Kontemporer
Kebanyakan bertarekat hanya berorientasi kepada akherat, berbeda dengan Tarekat Sunan Anbia, di samping akhirat sebagai tujuan finalnya, namun tidak mengabaikan kehidupan dunia. Slogannya “menghadirkan surga dunia sebelum menggapai surga akhirat.” Aliran filsafatnya “Eksistensialis + Positivis + Kontemporer, yang diimplementasikan dalam dunia Pendidikan Plus Pesantren guna mewujudkan pembaharuan secara: continuity (istimror), change (taghayyur) dan transcendency (muta’alin) yang mengedepankan experimental science’s.” Teorinyapun, khas Islami yakni “lisanun akal qaum.” Tarekat Sunan Anbia mencetak generasi menjadi “Orientalis Plus (Iman+Islam)”, cara meraihnya dengan “Trilogi Syahadat.” Tarekat Sunan Anbia murni doa –bukan khizib, bukan pula kodam atau sejenisnya– melainkan murni “doa-doa” yang digali dari Al-Qur’an, semacam “Mujarobat Ilmiah”, bukan “Klenik”. Intinya, berdoa setelah berusaha merupakan riyadah Tariqat Sunan Anbia. Rumusan suksesnya, “Sabar.” Namun, Sabar di sini, bukan dalam artian menerima (pasrah), tok!, tetapi sebuah rumusan: [Sabar = Niat (x) Sering (x) Banyak (x) Lama]. Sedangkan formulasi kesuksesannya: [Sukses = Sabar (+) Shalat]. Rahasia shalat, salah satu fadhilah yang belum terungkap oleh para ulama se-dunia, adalah menjadikan orang “Cerdas, Kaya dan Menjabat.” Tidak kalah pentingnya lagi, tujuan mulia Tarekat Sunan Anbia, adalah menyatukan hati umat Muslim. Walhasil, Salik Tarekat Sunan Anbia: “wis wayahnya: wis ogah dari wong ora pinter, wis ogah dadi wong ora jabat, wis ogah dadi wong ora sugih.” Permohonan hajatnya “Ilmu, Jabatan dan Harta.” Puncaknya pada “Kursi.” Tarekat Sunan Anbia, didirikan Jumat, 17 April 2015, oleh Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph. D. yang sudah diamalkannya sejak tahun 80-an. Para Salik harus menjadi historis maker (pelaku sejarah), bukan sekedar historian (sejarawan) alias pengamat, tok! Mukjizat terbesar dimuka bumi ini Al-Qur’an yakni menyeru Iqra’. Pada titik ini, kita sejatinya harus melakukan pertaubatan dengan ber-jihad: [Iqra (+) Ilmu = Asma]. Maka lakukankan: “Dari Iqra ke Jihad Ilmiah hingga ada Ledakan Iqra.” Semoga kedepannya kelak bisa mewarisi generasi para Nabi secara ilmiah (prophet sains/academic) dan spiritual sekaligus, dari Nabi Adam As hingga Nabi Muhammad Saw. Salik Tarekat Sunan Anbia, berwasilah untuk meraih itu, dengan membumikan Shalat Hajat (senjata) dan Majelis Ayat Kursi (benteng). Dari sekian banyak versi tarekat yang ada, hanya satu tarekat yang menyeru pada peradaban (’urf) yakni Tarekat Sunan Anbia. Jihad Tarekat Sunan Anbia bermunajat, minimal menggapai 3 (tiga) hajat yakni: (1) Ilmu setinggi-tingginya, simbolnya “Harvard”. (2) Jabatan setinggi-tingginya, hingga menjadi Presiden simbolnya “Istana”. (3) Harta (Ekonomi) dengan menjadi konglomerat (orang kaya raya). Jadi, marilah janganlah takut bila doa tidak dikabulkan, tapi takutlah karena tidak berdoa.
Penulis:
Assoc. Prof. Dr. K.M. Sadari, S.H.I., M.S.I
Tebal Halaman:
i-xx + 133 halaman
Editor:
Dr. Hj. Ummah Karimah, M.Pd
Tata Letak:
Fahmi Muhammad Syahrur Khan
Penerbit:
CV. Iqralana
Ukuran Buku:
Hight=23, Weidht=15,5